Meisha Nurlaela: Biasakan Tidur Tepat Waktu

Meisha Nurlaela
*Mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta 

MAGELANG RAYA
- Waktu menunjukan jam 21.00 di sebuah kos putri terdapat anak kos yang sedang berbaring di kasurnya, dengan santai seperti tidak ada tugas perkuliahan. 

Asik dengan gawai nya menikmati hiburan dari sosial media tanpa sadar akan pentingnya waktu. Menggerakkan jari mereka untuk mengescroll sosial media.

Di atas adalah sekilas gambaran sebagian remaja saat ini. Terlalu asyik bermain sosial media sampai begadang bukan untuk mengerjakan tugas tapi malah keasyikan melihat kehidupan orang lain. 

Berdasarkan polling saya di instagram, lebih dari 50 persen mahasiswa/mahasiswi mengaku tidur kurang dari durasi yang direkomendasikan yaitu 8 jam permalam. Dibandingkan dengan penggunaan sosial media, 73% mengaku mereka bermain sosial media minimal satu jam dalam sehari.

Baca Juga: Stadium General HMI Cabang Depok, KAHMI Romo Syafii: Rawat Tradisi Intelektual

Kebiasaan begadang bermain sosial media ini, bukan terjadi tanpa alasan. Seorang pemerhati tren digital dan remaja mengatakan, terdapat faktor mengapa remaja senang sekali bermain sosial media yakni ingin mendapat perhatian, ingin meminta pendapat terhadap rekan online nya dan menumbuhkan citra. 

Faktor tersebut membuat para remaja ingin selalu bermain sosial media tanpa memikirkan berapa lama mereka melakukan nya. Rasa ingin mengikuti tren atau sering disebut fomo (Fear of Missing) menyebabkan remaja selalu memainkan sosial media nya.

Apa sih bahaya dari kebiasaan ini?

“Tidur, jangan main hp terus!”

Pasti seringkali orang tua kita menganjurkan kalimat tersebut. Tujuan utamanya sih agar tidak mengganggu tidur mereka. Namun ternyata anjuran tersebut jauh lebih besar dari sekedar agar tidak mengganggu tidur mereka.

Studi mengatakan, smartphone yang digunakan untuk bermain sosial media memancarkan cahaya biru atau blue light yang menekan pelepasan hormon pemicu tidur yaitu melatolin. 

Baca Juga: Bima Wahyudi: Memahami Tantangan dan Solusi dari Krisis Moral Di Era Digital

Hal ini dapat mengganggu jam internal alami tubuh yang memberikan sinyal kapan waktunya tidur dan bangun. Blue light tersebut membuat seorang tetap produktif dan fokus. 

Blue light yang terpancar dari smartphone mempengaruhi tingkat melatonin tubuh dengan memberikan sinyal ke otak bahwa ini adalah siang hari. 

Produksi melantolin akan tertunda, tanpa produksi melantolin, tubuh akan tetap terjaga dan waspada dalam keaadan gairah kognitif yang menyebabkan terjadinya insomnia.

Terdapat beberapa hipotesis keterkaitan bermain sosial di waktu tidur. Pertama gangguan kualitas tidur, tidur kita akan kurang dari waktu yang direkomendasikan yaitu 8 jam dan tidur akan terasa singkat. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap pagi hari nya, tubuh akan terasa lesu dan menjadi tidak produktif.

Kedua kecemasan dan depresi, konten yang ada di sosial media banyak jenisnya, ketika kita mendapat pemaparan berlebih terhadap konten negatif atau perbandingan sosial dapat meningkatkan kecemasan dan depresi.

Ketiga kecanduan, seseorang akan selalu menghabiskan waktu untuk bermain sosial media tanpa memikirkan tanggungjawab nya yang lain.

Baca Juga: Pahami Cara Meningkatkan Daya Ingat Anak Agar Tumbuh Sehat dan Cerdas

Keempat penurunan performa atletik, Dilansir dari Elite Daily, studi baru yang telah diterbitkan dalam jurnal Sleep Health. Menemukan bahwa para pemain NBA yang terlibat dalam tweeting tengah malam menunjukkan kinerja waktu permainan yang lebih buruk daripada para pemain yang tidak menggunakan Twitter pada jam tidur.

Penelitian tersebut memantau lebih dari 37.000 tweets dari 112 pemain NBA antara 2009 dan 2016. Hasilnya, pemain yang sering main Twitter antara pukul 11 malam dan 7 pagi sebelum pertandingan bola basket rupanya mencetak poin lebih sedikit dan memiliki lebih sedikit rebound.

Seseorang yang melakukan aktivitas pada waktu tidur atau begadang, cenderung merasa lemas, letih dan lesu. Hal ini akan mengganggu kegiatan sehari hari nya menjadi tidak produktif. Bahkan dalam hal medis, begadang bisa juga menyebabkan insomnia.

Kurangi Begadang

Melihat berbagai masalah yang dapat muncul karena begadang, tentu lebih baik jika kita mengatur pola tidur kita. Untuk mengubah kebiasaan ini memang tidak mudah, apalagi jika sudah melakukan begadang selama berbulan-bulan. 

Namun, dengan mengetahui tips untuk mengatur pola tidur kita, seseorang yanh terbiasa begadang dapat perlahan berhenti.

 Berikut Tips nya :

Mulailah dengan tetapkan waktu tidur yang konsisten setiap malam. Tak hanya waktu tidur, penting juga membiasakan diri untuk bangun pada waktu yang sama setiap pagi.

Strategi selanjutnya yaitu biasakan tidur mematikan lampu. Melansir Men’s Healt cahaya panjang gelombang biru yang dipancarkan oleh lampu akan mengelabuhi jam sirkandian untuk berpikir bahwa malam hari masih seperti pagi hari dan menghambat pelepasan hormon melatonin.

Cara lainnya adalah rajin dalam berolahraga. Olahraga meningkatkan serotonin yang membantu mengatur jam sirkandian dan mengurangi stres secara psikologis. 

Olahraga juga dapat meningkatkan suhu tubuh. Penurunan suhu tubuh setelah berolahraga, membantu kamu mendapatkan tidur yang nyenyak. Hal ini tanpa kita sadari bisa memperbaiki kualitas tidur kita.

Kapan sih waktu tidur yang baik? 

Praktisi Kesehatan Tidur dan Konsultan Utama Snoring & Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Andreas Prasadja mengungkapkan, waktu tidur yang ideal bagi manusia ditentukan sesuai circadian rhythm atau ritme sirkadiannya. 

Dengan kita mengikuti ritme sirkandian kita akan mendapati waktu tidur yang ideal dan berhenti dari kebiasaan begadang. Untuk itu mulailah peduli dengan kesehatanmu dengan mengatur pola tidurmu.

Penulis: Meisha Nurlaela
*Mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta 


Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Magelangraya.id menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: beritamagelangraya@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027