Mengenal Budaya Tedak Siten Magelang Melalui Ki Abbet Nugroho

Upacara adat Tedak Siten anak kedua pasangan Agus Sugiyono dan Novi Laila, Jagad Prabuming Sugiyono

MAGELANGRAYA.ID
- Budaya Tedak Siten adalah tradisi masyarakat Jawa yang dirayakan dalam upacara adat atas kelahiran anak pada usia tujuh lapanan atau sekitar 245 hari dengan momen pertama menginjak tanah

Upacara adat Tedak Siten anak kedua pasangan Agus Sugiyono dan Novi Laila, Jagad Prabuming Sugiyono, berlangsung khidmat di Pendopo Sudirman 1, Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat (26/6/2026).

Diketahui, Agus Sugiyono merupakan salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Magelang yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Magelang saat ini.

Prosesi adat Jawa tersebut dipimpin langsung oleh budayawan sekaligus Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Magelang, Ki Abbet Nugroho.

Tedak Siten merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa yang menandai momen pertama seorang anak menginjak tanah pada usia tujuh lapanan atau sekitar 245 hari. 

Lebih dari sekadar seremoni, prosesi ini menjadi simbol doa, harapan, sekaligus amanah bagi perjalanan hidup sang anak.

Makna Tradisi Tedak Siten Jawa

Dalam wejangan adatnya, Ki Abbet Nugroho menyampaikan lima pesan filosofis Tedak Siten yang dinilai tetap relevan sebagai pedoman bagi generasi bangsa di tengah perkembangan zaman.

Mengenal Jati Diri

Pesan pertama adalah “Memijak Tanah = Mengenal Jati Diri.” Menurutnya, tujuh jenjang tangga yang dilalui Jagad melambangkan tujuh lapis langit ilmu pengetahuan dan budi pekerti.

“Sebelum mengejar dunia digital, anak Indonesia harus kuat menginjak tanah budayanya sendiri. Akar yang kuat menentukan setinggi apa pohon akan tumbuh,”katanya.

Memilih Masa Depan

Pesan kedua, “Memilih Benda = Memilih Masa Depan.” Prosesi memilih berbagai benda seperti buku, alat tulis, uang logam, maupun alat kerja dimaknai sebagai simbol ikhtiar dalam menentukan masa depan.

Menurut Ki Abbet, bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang bebas menentukan jalan hidupnya, baik sebagai cendekiawan, pekerja, pengusaha, maupun seniman, dengan tetap berlandaskan adab dan kerja keras.

Doa Jadi Pemimpin

Filosofi ketiga berkaitan dengan nama Jagad Prabuming Sugiyono. Nama tersebut mengandung makna tanggung jawab besar sebagai calon pemimpin yang membawa cahaya dan kemuliaan.

“Jagad” dimaknai sebagai dunia, “Prabu” berarti pemimpin, “Ming” bermakna cahaya, sedangkan “Sugiyono” merupakan doa kemuliaan dari kedua orang tua. Melalui nama tersebut, setiap anak Indonesia diharapkan tumbuh menjadi pemimpin yang mampu memberi manfaat bagi bangsa,” imbuhnya.

Peduli Sesama

Pesan keempat adalah “Menebar Uang Kepeng = Semangat Berbagi.” Tradisi menyebarkan uang logam dan jajanan pasar kepada masyarakat menjadi simbol bahwa rezeki harus mengalir dan dibagikan kepada sesama.

Nilai tersebut mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh dinikmati sendiri, melainkan harus diwujudkan melalui semangat gotong royong dan pemerataan sebagai kekuatan bangsa Indonesia.

Merawat Kebersamaan dan Persaudaraan

Adapun pesan kelima, “Bumi Dipijak Milik Bersama,” dimaknai sebagai simbol ketika kaki Jagad pertama kali menyentuh tanah. 

Momen tersebut menandai bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk memayu hayuning bawana atau menjaga keharmonisan kehidupan serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan sesama.Peta

Menutup prosesi adat, Ki Abbet Nugroho mengajak masyarakat untuk terus mencintai budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.

“Cintai tanah air dengan karya. Jaga bahasa, adat, dan seni, karena disitulah kedaulatan budaya kita berada,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ki Abbet Nugroho juga menegaskan pentingnya pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Tedak Siten Jagad Prabuming Sugiyono hari ini adalah cermin kecil Indonesia. Kami titipkan pesan: didiklah anak dengan ijazah budaya.  Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai anak-anak kita gagap terhadap tanah tempat ia lahir. Jika setiap anak ‘tedak siten’ dengan benar, maka Indonesia akan punya generasi yang berakar, beradab, dan berwibawa,” paparnya.

Sementara itu, Agus Sugiyono selaku orang tua menyampaikan harapan agar putranya dapat tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama,;bangsa, dan negara.

“Kami hanya bisa mengupayakan yang terbaik dan mendoakan. Semoga anak kami, Jagad, tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada Tuhan, orang tua, bangsa, dan negara. Mohon doa restu seluruh masyarakat,” kata Abet.

Rangkaian upacara Tedak Siten ditutup dengan doa bersama, hiburan, serta penyerahan santunan kepada 100 anak yatim di kawasan Borobudur; sebagai wujud kepedulian sosial  keluarga.

(***)

Baca Juga: Pilihan Venue Pernikahan di Yogyakarta: Mulai dari Konsep Gedung Hingga Ooutdor

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Magelangraya.id menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: beritamagelangraya@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027